Gereja
dari kata igreja (Portugis), ecclesia (Latin) dan ekklesia (Yunani) yang
berarti kumpulan atau pertemuan atau rapat bagi kelompok khusus. Ekklesia dalam
bahasa Yunani dapat juga berarti memanggil. Dalam Perjanjian Baru kata ekklesia
diterjemahkan dengan kata ’jemaat’ atau ’sidang jemaat’ (lih. Kis 5:11, Kis.
7:38; Ibr.2:12; Rom.16:1,5). Dalam Perjanjian Lama bahasa Ibrani kata gehal
eddah yang artinya dipanggil untuk bertemu bersama-sama di satu tempat yang telah
ditunjukkan (Kel. 12:6) dengan kata “jemaat yang berkumpul”. Gereja dapat
dimengerti sebagai umat yang dipanggil oleh Tuhan, dan menanggapi panggilan
itu.
Yesus
Kristus adalah Pendiri Gereja (Mat. 16:18), karena itu Yesus disebut Kepala
Gereja. Istilah Kepala mengandung arti tentang “superioritas” Kristus, yaitu
berkenaan dengan kuasa, pemerintahan, dan wewenang-Nya atas Gereja (1 Kor.
11:3; Ef. 1:22; 4:15; 5:23; Kol. 1:18; 2:10). Sebutan Kristus sebagai Kepala
ini bukan sekadar gelar kemuliaan atau kehormatan umum, tetapi Kristus
sungguh-sungguh menjadi Kepala atas umat-Nya. Bahkan Kristus adalah Kepala dari
segala yang ada, sebab segala sesuatu telah diletakkan di bawah kaki-Nya
(Ef.1:22-23). Kristus sebagai kepala Gereja, umat diharapkan mau mengikuti
kepalanya. Artinya,umat diharapkan mau mengikuti apa yang dilakukan Yesus.
Yesus Kristus rela berkorban demi keselamatan sesamanya bahkan menyerahkan
nyawanya sekalipun. Dia rela sampai mati, bahkan mati dikayu salib.
Gereja
awal ini dilihat sebagai karya Roh Kudus sebab Roh Kudus secara intensif
membimbing umat supaya dari kelompok murid tumbuh suatu umat beriman dengan
perlengkapan yang diperlukan seperti: Alkitab, struktur, rumusan-rumusan iman.
Kegiatan Roh Kudus tampak dalam berbagai karisma, bimbingan pribadi dan
mukjizat-mukjizat.( Yoh. 14:12). Awalnya gereja-gereja tersebut memandang diri
dan dipandang sebagai salah satu kelompok khusus di dalam agama Yahudi. Akan
tetapi, ciri-ciri khas semakin membedakannya dari induknya “Yahudi”.
Sebaliknya, penerimaan orang-orang dari bangsa lain, yang tidak perlu mematuhi
hukum dan adat Yahudi (Kis 15: 28 – 29; Gal 2 ) membuat Gereja muda di bawah
bimbingan Roh Kudus semakin sadar akan panggilan universalnya. Kitab-kitab
Perjanjian Baru menggambarkan Gereja seperti tumbuh pada waktu itu, yang
bersatu dalam pembaptisan, perayaan ekaristi dan agape, dan dalam pimpinan yang
dilantik para Rasul ( 1Kor. 11: 7 14.40; Ef. 4:5 ).
Katekismus
Gereja Katolik menjelaskan bahwa Gereja itu satu, karena tiga alasan. Pertama,
Gereja itu satu menurut asalnya, yang adalah Tritunggal Mahakudus, kesatuan
Allah tunggal dalam tiga Pribadi - Bapa, Putra dan Roh Kudus. Kedua, Gereja itu
satu menurut pendiri-Nya, Yesus Kristus, yang telah mendamaikan semua orang
dengan Allah melalui darah-Nya di salib. Ketiga, Gereja itu satu menurut
jiwanya, yakni Roh Kudus, yang tinggal di hati umat beriman, yang menciptakan
persekutuan umat beriman, dan yang memenuhi serta membimbing seluruh Gereja.
“Kesatuan Gereja” juga terlihat nyata. Sebagai orang Katholik, kita
dipersatukan dalam pengakuan iman yang satu dan sama, dalam perayaan ibadat
bersama terutama sakramen-sakramen, dan struktur hierarkis berdasarkan suksesi
apostolik yang dilestarikan dan diwariskan melalui Sakramen Tahbisan Suci.
“Iman
– persaudaraan – pelayanan” adalah tiga kata yang ingin menampilkan iman
Katolik secara utuh. Anda meyakini “bahwa iman bekerjasama dengan
perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.”
(Yak. 2:22, TB ). Yang kita maksudkan sebagai perbuatan-perbuatan itu adalah
persaudaraan sejati dan pelayanan kasih, yang menjadi ungkapan iman. Dengan
demikian iman itu tidak hanya menjadi urusan personal dan internal umat, tetapi
terwujud dalam perbuatan-perbuatan baik. Dengan demikian, iman memberi makna
(“signifikansi” dan “relevansi”) pada keberadaan umat di tengah-tengah
masyarakat dan bangsa.
Ajaran
sosial gereja didasarkan pada sebuah pemikiran bahwa: ”Kegembiraan dan harapan,
duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa
saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para
murid Kristus juga. Tiada sesuatupun yang sungguh manusiawi, yang tidak bergema
di hati mereka”. Sebab,”Dengan mengabaikan tugas kewajibannya di dunia ini
orang Kristiani melalikan tugas kewajibannya terhadap sesama, bahkan
mengabaikan Allah sendiri, dan membahayakan keselamatan kekalnya”.
Ajaran-ajaran ini dirangkum dalam ajaran sosial Gereja. Ajaran sosial Gereja
terumus dalam ensiklik-ensiklik (surat edaran) para Paus. Melalui
ensiklik-ensiklik yang memuat ajaran sosial Gereja, Paus sebagai wakil Gereja
mau mengungkapkan sikap Gereja terhadap masalah-masalah sosial, ekonomi dan
politik sejak munculnya masalah sosial pada awal abad 19.
Gereja
ada bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk melayani sesamanya. Gereja punya
sifat satu, kudus, Katolik, dan apostolik sebagaimana termuat dalam doa aku
percaya Gereja mempunyai 5 tugas yang luhur yakni:
1) Liturgia ( menguduskan)
2) Kerigma ( mewartakan kabar baik kepada
sesamanya)
3) Koinonia
(persekutu sama dengan yang lainnya)
4) Diakonia
(melayani)
5) Martiria
(memberi kesaksian)
Anggota
Gereja terdiri dari kaum tertahbis (hirarki), biarawan-biarawati, dan kaum awam
dan semuanya punya martabat yang sama, hanya tugas dari masing-masing yang
berbeda. Dalam Gereja Katolik ada 7 sakremen yaitu Sakramen Pembaptisan,
Sakramen Ekaristi, Sakramen Penguatan/Krisma, Sakramen Tobat, Sakramen
Pengurapan Orang Sakit, Sakramen Perkawinan dan Sakramen Tahbisan.Selain dogma,
Gereja juga memiliki ajaran yang cukup indah terhadap keadilan terhadap sesama
khususnya mereka yang kurang diperhatikan yaitu Ajaran Sosial Gereja. Gereja
menaruh perhatian khusus pada masalah- masalah sosial.
Comments
Post a Comment