Bab 8 - Gereja dan Iman Yang Memasyarakat


Gereja dari kata igreja (Portugis), ecclesia (Latin) dan ekklesia (Yunani) yang berarti kumpulan atau pertemuan atau rapat bagi kelompok khusus. Ekklesia dalam bahasa Yunani dapat juga berarti memanggil. Dalam Perjanjian Baru kata ekklesia diterjemahkan dengan kata ’jemaat’ atau ’sidang jemaat’ (lih. Kis 5:11, Kis. 7:38; Ibr.2:12; Rom.16:1,5). Dalam Perjanjian Lama bahasa Ibrani kata gehal eddah yang artinya dipanggil untuk bertemu bersama-sama di satu tempat yang telah ditunjukkan (Kel. 12:6) dengan kata “jemaat yang berkumpul”. Gereja dapat dimengerti sebagai umat yang dipanggil oleh Tuhan, dan menanggapi panggilan itu.
                                              
Yesus Kristus adalah Pendiri Gereja (Mat. 16:18), karena itu Yesus disebut Kepala Gereja. Istilah Kepala mengandung arti tentang “superioritas” Kristus, yaitu berkenaan dengan kuasa, pemerintahan, dan wewenang-Nya atas Gereja (1 Kor. 11:3; Ef. 1:22; 4:15; 5:23; Kol. 1:18; 2:10). Sebutan Kristus sebagai Kepala ini bukan sekadar gelar kemuliaan atau kehormatan umum, tetapi Kristus sungguh-sungguh menjadi Kepala atas umat-Nya. Bahkan Kristus adalah Kepala dari segala yang ada, sebab segala sesuatu telah diletakkan di bawah kaki-Nya (Ef.1:22-23). Kristus sebagai kepala Gereja, umat diharapkan mau mengikuti kepalanya. Artinya,umat diharapkan mau mengikuti apa yang dilakukan Yesus. Yesus Kristus rela berkorban demi keselamatan sesamanya bahkan menyerahkan nyawanya sekalipun. Dia rela sampai mati, bahkan mati dikayu salib.

Gereja awal ini dilihat sebagai karya Roh Kudus sebab Roh Kudus secara intensif membimbing umat supaya dari kelompok murid tumbuh suatu umat beriman dengan perlengkapan yang diperlukan seperti: Alkitab, struktur, rumusan-rumusan iman. Kegiatan Roh Kudus tampak dalam berbagai karisma, bimbingan pribadi dan mukjizat-mukjizat.( Yoh. 14:12). Awalnya gereja-gereja tersebut memandang diri dan dipandang sebagai salah satu kelompok khusus di dalam agama Yahudi. Akan tetapi, ciri-ciri khas semakin membedakannya dari induknya “Yahudi”. Sebaliknya, penerimaan orang-orang dari bangsa lain, yang tidak perlu mematuhi hukum dan adat Yahudi (Kis 15: 28 – 29; Gal 2 ) membuat Gereja muda di bawah bimbingan Roh Kudus semakin sadar akan panggilan universalnya. Kitab-kitab Perjanjian Baru menggambarkan Gereja seperti tumbuh pada waktu itu, yang bersatu dalam pembaptisan, perayaan ekaristi dan agape, dan dalam pimpinan yang dilantik para Rasul ( 1Kor. 11: 7 14.40; Ef. 4:5 ).

Katekismus Gereja Katolik menjelaskan bahwa Gereja itu satu, karena tiga alasan. Pertama, Gereja itu satu menurut asalnya, yang adalah Tritunggal Mahakudus, kesatuan Allah tunggal dalam tiga Pribadi - Bapa, Putra dan Roh Kudus. Kedua, Gereja itu satu menurut pendiri-Nya, Yesus Kristus, yang telah mendamaikan semua orang dengan Allah melalui darah-Nya di salib. Ketiga, Gereja itu satu menurut jiwanya, yakni Roh Kudus, yang tinggal di hati umat beriman, yang menciptakan persekutuan umat beriman, dan yang memenuhi serta membimbing seluruh Gereja. “Kesatuan Gereja” juga terlihat nyata. Sebagai orang Katholik, kita dipersatukan dalam pengakuan iman yang satu dan sama, dalam perayaan ibadat bersama terutama sakramen-sakramen, dan struktur hierarkis berdasarkan suksesi apostolik yang dilestarikan dan diwariskan melalui Sakramen Tahbisan Suci.

“Iman – persaudaraan – pelayanan” adalah tiga kata yang ingin menampilkan iman Katolik secara utuh. Anda meyakini “bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” (Yak. 2:22, TB ). Yang kita maksudkan sebagai perbuatan-perbuatan itu adalah persaudaraan sejati dan pelayanan kasih, yang menjadi ungkapan iman. Dengan demikian iman itu tidak hanya menjadi urusan personal dan internal umat, tetapi terwujud dalam perbuatan-perbuatan baik. Dengan demikian, iman memberi makna (“signifikansi” dan “relevansi”) pada keberadaan umat di tengah-tengah masyarakat dan bangsa.

Ajaran sosial gereja didasarkan pada sebuah pemikiran bahwa: ”Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatupun yang sungguh manusiawi, yang tidak bergema di hati mereka”. Sebab,”Dengan mengabaikan tugas kewajibannya di dunia ini orang Kristiani melalikan tugas kewajibannya terhadap sesama, bahkan mengabaikan Allah sendiri, dan membahayakan keselamatan kekalnya”. Ajaran-ajaran ini dirangkum dalam ajaran sosial Gereja. Ajaran sosial Gereja terumus dalam ensiklik-ensiklik (surat edaran) para Paus. Melalui ensiklik-ensiklik yang memuat ajaran sosial Gereja, Paus sebagai wakil Gereja mau mengungkapkan sikap Gereja terhadap masalah-masalah sosial, ekonomi dan politik sejak munculnya masalah sosial pada awal abad 19.

Gereja ada bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk melayani sesamanya. Gereja punya sifat satu, kudus, Katolik, dan apostolik sebagaimana termuat dalam doa aku percaya Gereja mempunyai 5 tugas yang luhur yakni:
 1) Liturgia ( menguduskan)
 2) Kerigma ( mewartakan kabar baik kepada sesamanya)
3) Koinonia (persekutu sama dengan yang lainnya)
4) Diakonia (melayani)
5) Martiria (memberi kesaksian)

Anggota Gereja terdiri dari kaum tertahbis (hirarki), biarawan-biarawati, dan kaum awam dan semuanya punya martabat yang sama, hanya tugas dari masing-masing yang berbeda. Dalam Gereja Katolik ada 7 sakremen yaitu Sakramen Pembaptisan, Sakramen Ekaristi, Sakramen Penguatan/Krisma, Sakramen Tobat, Sakramen Pengurapan Orang Sakit, Sakramen Perkawinan dan Sakramen Tahbisan.Selain dogma, Gereja juga memiliki ajaran yang cukup indah terhadap keadilan terhadap sesama khususnya mereka yang kurang diperhatikan yaitu Ajaran Sosial Gereja. Gereja menaruh perhatian khusus pada masalah- masalah sosial. 

Comments