“Berbahagialah
yang hidup miskin terdorong oleh karena Roh Kudus, sebab bagi merekalah
kerajaan Allah” ( Mat 5:3 )
Sungguh kontras gambaran dua figur dalam bacaan hari
ini. Figur pertama adalah ahli-ahli Taurat. Mereka adalah gambaran pemimpin
agama yang lebih suka bersikap sebagai tuan daripada sebagai hamba . Doa-doa mereka yang panjang mengesankan bahwa mereka adalah orang
saleh. Mereka berpura-pura dekat dengan Allah, tetapi sesungguhnya mereka
sedang mencari simpati orang lain. Mereka juga suka mencaplok harta janda-janda
miskin.
Ini sangat kontras dengan figur kedua, yaitu seorang
janda. Ia sangat miskin sehingga hanya bisa memberikan persembahan sebesar dua
peser. Namun Yesus menghargai pemberian si janda. Mengapa? Karena walau ia
hanya punya uang sejumlah dua peser, tetapi ia mau memberikan kedua-duanya.
Padahal bisa saja ia menyimpan satu peser untuk dirinya sendiri, tak ada orang
yang akan tahu. Namun bagi si janda, kemiskinan tidak menghalangi dia untuk
mengungkapkan syukur dan penyerahan diri yang bulat kepada Tuhan. Iman dan
cintanya kepada Tuhan utuh dan penuh.
Melalui tindakan si janda, Yesus mengajarkan bahwa
nilai sebuah persembahan bukan ditentukan semata-mata oleh jumlah, melainkan
oleh motivasi dan hati si pemberi. Inilah yang membuat persembahan si janda
jadi bernilai. Ia melepaskan diri dari segala miliknya dan melupakan semua
kebutuhannya untuk menyatakan bahwa ia dan semua miliknya adalah kepunyaan
Tuhan . Melalui kisah si janda, Yesus bagai menantang anggapan bahwa
memberi persembahan dalam jumlah banyak bisa dilakukan bila kita memiliki
banyak uang. Si janda mematahkan anggapan itu. Ia hanya mempersembahkan sedikit
uang, tetapi menurut Yesus ia mempersembahkan lebih banyak daripada semua orang .
Memberi persembahan merupakan kesempatan yang hanya
ada selama kita hidup. Maka marilah kita memberi persembahan dengan mengingat
bahwa Kristus yang tersalib telah memberikan nyawa-Nya bagi kita. Bagaimana
mungkin kita tidak mau memberikan diri serta segala milik kita.
Singkat cerita seorang janda di
Sarfat bersedia memberikan roti yang ia buat sendiri dan sedikit tepung yang
ada di rumah. Ia sendiri mengatakan bahwa ia akan membuat roti dari sedikit
tepung itu untuk dia dan anaknya. Setelah makan roti itu mereka akan mati
karena tidak ada lagi tepung. Atas permintaan Elia, roti dari sedikit tepung
itu akan diberikan juga kepada Elia. Bayangkan, roti terakhir yang tersedia,
harus dibagi lagi kepada orang lain yang sedang kelaparan. Janda sarfat memberi
roti dari kekurangan kepada Elia. Demikian pula halnya dengan janda miskin yang
memasukan persembahan ke dalam peti persembahan. Yesus mengatakan bahwa
pemberian janda itu lebih besar karena Ia memberi dari kekurangan. Dua janda
dalam bacaan-bacaan kitab suci hari ini menunjukkan kepada kita, iman yang
sesungguhnya. Iman tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk yang lain.
Iman yang sesungguhnya dilihat dari tindakan atau perbuatan kasih. Mereka
adalah contoh orang beriman yang meneladani Yesus Kristus yang rela menyerahkan
hidup-Nya demi keselamatan dunia.
Comments
Post a Comment