Dalam Injil hari ini, banyak murid Yesus yang
meninggalkan Dia, kembali ke kehidupan lama mereka. Mereka yang semula ikut
menyertai Yesus ke mana pun Dia pergi, sekarang mengundurkan diri karena tidak
bisa menerima perkataan Yesus. Mereka menginginkan Yesus seperti yang ada dalam
konsep mereka. Ketika Yesus tidak lagi seperti yang mereka inginkan, mereka
pergi meninggalkan-Nya.
Sering kali, dalam hidup beriman, kita pun seperti
para murid yang meninggalkan Yesus. Ketika kita mendapatkan apa yang kita
inginkan melalui Gereja, ketika kita merasa bahwa Sabda Yesus mendukung
perbuatan kita, ketika kita merasakan manfaat dari status kekristenan kita,
kita menjadi orang Katolik yang begitu bersemangat.
Namun, ketika kita merasa bahwa Gereja mulai turut
campur dalam kehidupan pribadi kita, pelan-pelan kita mulai menjauh, bahkan
mungkin mengundurkan diri. Ketika kita mengalami bahwa hal-hal yang kita
senangi ternyata adalah hal-hal yang bertentangan, bahkan dilarang oleh ajaran
Kristiani; atau ketika kita mengalami bahwa tuntutan ajaran Kristiani ternyata
tidak semudah yang kita bayangkan sebelumnya, kita mulai mencoba mencari yang
lain di luar Kristus. Apalagi ketika kekristenan kita justru mempersulit hidup
dan karir kita, kita mulai berpikir untuk melepaskan status tersebut.
Ketika hal-hal kecil semacam itu sudah dengan mudahnya
mengguncang iman kita, bagaimana mungkin kita mampu menerima dan bertahan
ketika dihadapkan pada hal-hal besar? Bagaimana kita akan mampu memahami salib?
Ketika Yesus bertanya kepada para murid yang masih
tetap tinggal, "Apakah kamu tidak mau pergi juga?", Dia juga bertanya
hal yang sama kepada kita. Maka, saatnya kita mulai bertanya pada diri kita
sendiri, " Mengapa aku masih di sini?" Apakah sekadar karena aku
terlahir Katolik? Apakah karena berbagai fasilitas dan kemudahan yang kudapatkan?
Apakah hanya untuk menjaga suasana damai dalam keluarga yang semuanya Katolik?
Kalau masih semacam itu alasannya, barangkali akhirnya kita pun akan seperti
para murid yang meninggalkan Yesus.
Kalau kita ingin bisa
berkata seperti Petrus dan para rasul yang setia, "Tuan, kepada siapa kami
akan pergi? Sabda-Mu adalah sabda hidup abadi!" maka kita perlu menghayati
dan menghidupi Sabda Tuhan, serta mengenal Yesus lebih dalam dengan hati.
Comments
Post a Comment