28 Oktober 2018

Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut, dan menerangi hidup dengan Injil. ( 2 Tim 1: 10b)
Bacaan pada hari ini mengantar kita untuk melihat kemuliaan Tuhan di dalam hidup kita. cerita dari injil pada hari ini adalah mengenai seorang pengemis yang buta bernama bartimeus yang mendengar bahwa Yesus lewat langsung memanggil Yesus dan meminta karunia-Nya supaya ia dapat melihat lagi. Keinginan bartimeus untuk dapat melihat ini pun dikabulkan oleh Yesus. Dengan itu, bertimeus pun akhirnya dapat melihat. Ia tidak hanya dapat melihat secara fisik tetapi juga melihat kemuliaan Tuhan dalam diri Yesus. Buah dari melihat kemuliaan Tuhan itu ditunjukkan dengan sikapnya yang mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. 
Peristiwa yang dialami oleh bartimeus yang dikabulkan harapannya oleh Yesus mengingatkan kita pada harapan-harapan kita yang terkadang belum dikabulkan oleh Yesus. Setiap orang pasti mempunyai harapan dalam hidupnya. Bisa berupa kehidupan yang layak, kedudukan atau karier yang mantap, relasi yang baik, dan sebagainya.
Lalu apa yang menjadi harapan seorang buta, seperti Bartimeus? Tentu agar dia dapat melihat. Selama itu ia hidup dalam kegelapan. Ia hanya bisa mendengar cerita orang tentang cerahnya sinar matahari, tanpa bisa melihatnya. Maka ketika mendengar bahwa rombongan Yesus melewati tempat dia duduk mengemis, dia tidak mau melewatkan kesempatan itu sedikit pun. Mungkin sebelumnya ia telah mendengar berita tentang mukjizat-mukjizat yang Yesus lakukan. Siapa tahu itulah saatnya bagi dia untuk mengalami mukjizat Yesus. Lalu berteriaklah dia memanggil-manggil Yesus (ayat 47). Dia tak menghiraukan orang-orang yang menyuruh dia diam (ayat 48).
Adalah menarik bila kita melihat bahwa Bartimeus memanggil Yesus dengan sebutan “Anak Daud”. Sebutan ini bagai memperdengarkan pengharapan mesianik. Mungkin ungkapan Bartimeus bernuansa politis, tetapi melalui peristiwa ini Yesus menyatakan kemesiasan-Nya.
Kita juga melihat bahwa harapan Bartimeus yang dilandasi iman, yaitu agar ia dapat melihat, digenapi. Harapan itu menuntun dia memasuki masa pemuridan dan pengenalannya akan Yesus, yang saat itu dalam perjalanan menuju salib. Peristiwa ini juga memperlihatkan sikap Bartimeus sebagai seorang murid. Responsnya untuk meninggalkan segala sesuatu demi ikut Yesus, yang dilambangkan dengan “melemparkan jubahnya” (ayat 50), bertolak belakang dengan orang kaya yang tidak rela meninggalkan harta miliknya (ayat 17 dst). Beriman kepada Yesus dan menjadi murid-Nya bukan mengarahkan kita kepada hal-hal yang bersifat materi, tetapi menolong kita untuk memahami makna salib Kristus. Belajarlah dari Bartimeus, yang meskipun buta fisik, tetapi dapat melihat Tuhan dengan imannya. Sebagai pengikut Kristus, kita pun diajak untuk dapat melihat kemuliaan Tuhan dan memperoleh keselamatan. Secara khusus, melalui Sakramen Baptis dan sakramen lainnya kita dijadikan anak-anak Allah dan dipanggil untuk ambil bagian dalam tugas imamat Kristus, entah dalam imamat umum atau imamat khusus. Surat kepada Orang Ibrani hari ini mengajak kita untuk menyadari panggilan Tuhan akan imamat itu.

Comments