Penebus kita Yesus
Kristus telah membinasakan maut, dan menerangi hidup dengan Injil. ( 2 Tim 1: 10b)
Bacaan
pada hari ini mengantar kita untuk melihat kemuliaan Tuhan di dalam hidup kita.
cerita dari injil pada hari ini adalah mengenai seorang pengemis yang buta
bernama bartimeus yang mendengar bahwa Yesus lewat langsung memanggil Yesus dan
meminta karunia-Nya supaya ia dapat melihat lagi. Keinginan bartimeus untuk
dapat melihat ini pun dikabulkan oleh Yesus. Dengan
itu, bertimeus pun akhirnya dapat melihat. Ia tidak hanya dapat melihat secara
fisik tetapi juga melihat kemuliaan Tuhan dalam diri Yesus. Buah dari melihat
kemuliaan Tuhan itu ditunjukkan dengan sikapnya yang mengikuti Yesus dalam
perjalanan-Nya.
Peristiwa yang dialami oleh bartimeus yang dikabulkan
harapannya oleh Yesus mengingatkan kita pada harapan-harapan kita yang
terkadang belum dikabulkan oleh Yesus. Setiap orang pasti mempunyai harapan
dalam hidupnya. Bisa berupa kehidupan yang layak, kedudukan atau karier yang
mantap, relasi yang baik, dan sebagainya.
Lalu apa
yang menjadi harapan seorang buta, seperti Bartimeus? Tentu agar dia dapat
melihat. Selama itu ia hidup dalam kegelapan. Ia hanya bisa mendengar cerita
orang tentang cerahnya sinar matahari, tanpa bisa melihatnya. Maka ketika
mendengar bahwa rombongan Yesus melewati tempat dia duduk mengemis, dia tidak
mau melewatkan kesempatan itu sedikit pun. Mungkin sebelumnya ia telah
mendengar berita tentang mukjizat-mukjizat yang Yesus lakukan. Siapa tahu
itulah saatnya bagi dia untuk mengalami mukjizat Yesus. Lalu berteriaklah dia
memanggil-manggil Yesus (ayat 47). Dia tak menghiraukan orang-orang yang
menyuruh dia diam (ayat 48).
Adalah
menarik bila kita melihat bahwa Bartimeus memanggil Yesus dengan sebutan “Anak
Daud”. Sebutan ini bagai memperdengarkan pengharapan mesianik. Mungkin ungkapan
Bartimeus bernuansa politis, tetapi melalui peristiwa ini Yesus menyatakan
kemesiasan-Nya.
Kita juga melihat bahwa harapan Bartimeus yang
dilandasi iman, yaitu agar ia dapat melihat, digenapi. Harapan itu menuntun dia
memasuki masa pemuridan dan pengenalannya akan Yesus, yang saat itu dalam
perjalanan menuju salib. Peristiwa ini juga memperlihatkan sikap Bartimeus
sebagai seorang murid. Responsnya untuk meninggalkan segala sesuatu demi ikut
Yesus, yang dilambangkan dengan “melemparkan jubahnya” (ayat 50), bertolak
belakang dengan orang kaya yang tidak rela meninggalkan harta miliknya (ayat 17
dst). Beriman kepada Yesus dan menjadi murid-Nya bukan mengarahkan kita kepada
hal-hal yang bersifat materi, tetapi menolong kita untuk memahami makna salib
Kristus. Belajarlah dari Bartimeus, yang meskipun buta fisik, tetapi dapat
melihat Tuhan dengan imannya. Sebagai pengikut Kristus, kita pun diajak untuk
dapat melihat kemuliaan Tuhan dan memperoleh keselamatan. Secara khusus,
melalui Sakramen Baptis dan sakramen lainnya kita dijadikan anak-anak Allah dan
dipanggil untuk ambil bagian dalam tugas imamat Kristus, entah dalam imamat
umum atau imamat khusus. Surat kepada Orang Ibrani hari ini mengajak kita untuk
menyadari panggilan Tuhan akan imamat itu.
Comments
Post a Comment