4 November 2018

Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti Firman-Ku; Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepada-Nya(Yoh 14:33)

Bacaan pada hari ini Yesus mengajarkan kita mengenai cinta kasih. Di dalam injil dikatakan ”Perintah yang paling utama ialah:Dengarlah, hai orang Israel,Tuhan Allah kita itu Tuhan yang esa!Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati,dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan perintah yang kedua ialah:Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama dari pada kedua perintah ini.” Kedua perintah Tuhan itu saling melengkapi. Karena mengasihi orang lain adalah tindakan yang akan muncul bila orang mengasihi Allah.Kita tidak dapat melakukan yang satu tanpa memenuhi yang lain.Cinta kasih yang dimaksudkan adalah cinta kasih yang terarah kepada Allah, dan sekaligus terarah kepada sesama manusia. Kasih memang penting untuk mendasari sebuah relasi. Kita bisa saja menaati firman Allah tanpa mengasihi Dia. Namun ketaatan demikian bersifat hampa. Sebaliknya bila kita mengasihi Dia, niscaya kita menaati Dia. Selain itu kita harus mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Kemampuan mengasihi sesama bergantung pada pemahaman bahwa Allah mengasihi mereka juga. Misalnya jika orang membuat kita marah, apa kita akan balas dendam? Jika ya, berarti sikap merekalah yang mendasari tindakan kita bukan firman Allah. Lalu apa kita harus tidak peduli perlakuan orang lain? Tidak. Alkitab mengajari kita cara berurusan dengan orang lain dan menangani perasaan saat merasa terluka. Namun solusi Allah dirancang untuk menghasilkan rekonsiliasi dan pertumbuhan iman. Bukan untuk balas dendam atau mengendalikan orang lain. Ingatlah bahwa tiap orang berharga di mata Allah. Pemulihan hubungan berarti menghargai Allah dan itu mewujud dalam sikap kita terhadap sesama sebagai ciptaan Allah.
Selain itu, cinta kasih yang kita berikan kepada sesama ibarat sekeping koin dengan dua sisi. Yang satu tidak bisa terlepas dari yang lain. Cinta kasih kepada Allah tidak lepas dari cinta kasih kepada sesama manusia. Demikian pula sebaliknya. Maka seorang murid Kristus yang sejati, menerima dan menghayati ajaran kasih ini dalam hidupnya. Cinta kasih kepada Allah dan sesama telah ditunjukkan oleh Tuhan Yesus sendiri melalui pengorbanan di salib. Dia tidak hanya mengajar tentang cinta kasih secara lisan, tetapi menghayati apa yang diajarkan-Nya itu, melalui tindakan cinta kasih kepada Allah dan sesama melalui karya-Nya yang berpuncak pada salib. Menjadi murid Kristus berarti menjadi pelaksana ajaran cinta kasih: cinta kepada Allah dan sesama manusia. 

Comments