7 Oktober 2018


“ Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” ( Mrk 10:9)
Bacaan Injil pada hari ini berbicara mengenai hidup perkawinan. Di zaman sekarang banyak orang yang mempertanyakan mengenai tujuan dan hakikat dari perkawinan itu sendiri. Tidak jarang banyak pasangan yang bercerai karena belum memahami tujuan perkawinan dalam hidup perkawinan mereka. Hidup perkawinan tidak hanya untuk kebahagiaan pasangan saja tetapi juga demi kebaikan sesama atau kerabat dari pasangan. Yesus mempersatukan pasangan dalam hidup perkawinan agar hidup mereka kudus dan dapat dipersembahkan bagi Allah. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan yang mempunyai kedudukan yang setara. Laki-laki akan meninggalkan orangtuanya untuk hidup bersatu dengan perempuan yang di pilihnya dan keduanya akan menjadi satu daging.Dengan demikian, kesetiaan di antara mereka yang diikat satu sama lain adalah suatu hadiah dari Tuhan.
Dewasa ini, marak terjadi berita perceraian diantara pasangan selebritis.Banyaknya berita perceraian yang muncul di infotaiment memberi anggapan masyarakat bahwa perceraian menjadi sesuatu yang mudah dilakukan. Hal ini tentunya tidak sesuai dengan ajaran di gereja yang mengatakan bahwa “ apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mrk 10:9. Lalu bagaimana Gereja memandang perceraian sesuai dengan zaman yang ada? Ternyata masalah perceraian tidak hanya terjadi di zaman modern saja. Pada zaman Musa telah terjadi perceraian. Yesus membandingkan pandangan orang farisi dengan Allah tentang pernikahan. Karena Allah lah yang membentuk pernikahan itu. Pernikahan yang menghasilkan hubungan “satu daging” yaitu, hubungan yang lebih erat daripada hubungan orangtua dengan anak. Maka dari itu pernikahan adalah hubungan yang telah dipersatukan oleh Allah dan tidak boleh dipisahkan oleh manusia. Hubungan pernikahan bukan sebatas kontrak yang berlaku dalam jangka waktu tertentu yang dapat dibubarkan begitu saja. Baik suami maupun istri tidak boleh bercerai dan menika lagi, karena hal itu dianggap dengan berzinah.
Kebanyakan pasangan yang ingin bercerai memiliki alasan karena dari mereka sudah tidak adanya kecocokan satu sama lain dan berbeda prinsip. Perceraian dianggap sebagai solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah di antara mereka tanpa memikirkan dampak dari perceraian untuk keluarga mereka terutama bagi anak-anak. Lalu, bagaimana solusi terhadap masalah demikian? Jangan pernah melihat perceraian sebagai suatu solusi, meski situasinya buruk. Bila demikian, perceraian akan mudah sekali dilakukan. Pertengkaran suami istri memang tidak baik dilihat anak-anak, tetapi perceraian juga akan berakibat buruk bagi mereka. Sebab itu kembalilah pada Dia yang mempersatukan, agar Ia menolong terjadinya pemulihan.

Comments