“ Karena itu, apa yang
telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” ( Mrk 10:9)
Bacaan Injil pada hari ini berbicara mengenai hidup
perkawinan. Di zaman sekarang banyak orang yang mempertanyakan mengenai tujuan
dan hakikat dari perkawinan itu sendiri. Tidak jarang banyak pasangan yang
bercerai karena belum memahami tujuan perkawinan dalam hidup perkawinan mereka.
Hidup perkawinan tidak hanya untuk kebahagiaan pasangan saja tetapi juga demi
kebaikan sesama atau kerabat dari pasangan. Yesus mempersatukan pasangan dalam
hidup perkawinan agar hidup mereka kudus dan dapat dipersembahkan bagi Allah.
Allah menciptakan laki-laki dan perempuan yang mempunyai kedudukan yang setara.
Laki-laki akan meninggalkan orangtuanya untuk hidup bersatu dengan perempuan
yang di pilihnya dan keduanya akan menjadi satu daging.Dengan demikian, kesetiaan di antara mereka yang diikat satu sama lain
adalah suatu hadiah dari Tuhan.
Dewasa ini, marak terjadi berita perceraian diantara
pasangan selebritis.Banyaknya berita perceraian yang muncul di infotaiment
memberi anggapan masyarakat bahwa perceraian menjadi sesuatu yang mudah
dilakukan. Hal ini tentunya tidak sesuai dengan ajaran di gereja yang
mengatakan bahwa “ apa yang telah
dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mrk 10:9. Lalu
bagaimana Gereja memandang perceraian sesuai dengan zaman yang ada? Ternyata
masalah perceraian tidak hanya terjadi di zaman modern saja. Pada zaman Musa
telah terjadi perceraian. Yesus membandingkan pandangan orang farisi dengan
Allah tentang pernikahan. Karena Allah lah yang membentuk pernikahan itu.
Pernikahan yang menghasilkan hubungan “satu daging” yaitu, hubungan yang lebih
erat daripada hubungan orangtua dengan anak. Maka dari itu pernikahan adalah
hubungan yang telah dipersatukan oleh Allah dan tidak boleh dipisahkan oleh
manusia. Hubungan pernikahan bukan sebatas kontrak yang berlaku dalam jangka
waktu tertentu yang dapat dibubarkan begitu saja. Baik suami maupun istri tidak
boleh bercerai dan menika lagi, karena hal itu dianggap dengan berzinah.
Kebanyakan pasangan yang ingin bercerai memiliki
alasan karena dari mereka sudah tidak adanya kecocokan satu sama lain dan
berbeda prinsip. Perceraian dianggap sebagai solusi terbaik untuk menyelesaikan
masalah di antara mereka tanpa memikirkan dampak dari perceraian untuk keluarga
mereka terutama bagi anak-anak. Lalu, bagaimana solusi terhadap masalah
demikian? Jangan pernah melihat perceraian sebagai suatu solusi, meski
situasinya buruk. Bila demikian, perceraian akan mudah sekali dilakukan. Pertengkaran
suami istri memang tidak baik dilihat anak-anak, tetapi perceraian juga akan
berakibat buruk bagi mereka. Sebab itu kembalilah pada Dia yang mempersatukan,
agar Ia menolong terjadinya pemulihan.
Comments
Post a Comment