“Ia
menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu
dijadikan-Nya berbicara.” ( Mrk 7:37)
Pada saat dunia diciptakan, Allah melihat bahwa
semua baik adanya. Namun, karena dosa manusia itu lah yang membuat dunia
menjadi dua sisi yaitu sisi baik dan sisi jahat. Dunia ini tidak hanya berisi
sisi baik saja. Kita sebagai manusia tentunya mengetahui bagaimana sisi baik
dan sisi jahat itu ada di dunia. Terkadang banyak orang merasa tidak perduli dengan
kesulitan yang dihadapi oleh orang lain. Walaupun mereka baik dengan semua
orang tetapi mereka tidak mau peduli dengan kesulitan yang di hadapi oleh orang
di sekitarnya.
Yesus datang ke dunia dengan membawa sukacita.
Allah mengutus Yesus datang ke dunia untuk menjadikan segala-galanya menjadi
baik. Kebaikan Yesus menjadikan-Nya peka terhadap apa yang dihadapi oleh
umat-Nya. Ia peka terhadap suara Bapa-nya. Diceritakan di dalam bacaan Injil
pada hari ini bahwa Yesus mendengar dan menyembuhkan orang yang sakit. Yang
tuli dijadikan-Nya mendengar dan yang bisu dijadikan-Nya berbicara.
Kisah pada bacaan Injil pada hari ini mengingatkan
kita pada kehidupan sehari-hari yang seolah-olah tuli dan bisu terhadap masalah
orang lain. Kita seringkali tidak ingin membantu dan ikut campur dalam masalah
orang lain. Kita tidak perduli dengan apa yang orang lain rasakan dan hanya
memikirkan masalah hidup kita sendiri. Dengan kita bertindak seperti itu,
tentunya orang lain juga enggan untuk membantu kita.
Alangkah tidak enaknya menjadi
seorang yang tuli. Tidak ada seorang pun yang dapat melihat kesulitan kita.
Jika kita menderita buta atau lumpuh, orang lain bisa melihat kesulitan kita
dan segera memberikan pertolongan. Namun jika tuli, bagaimana orang bisa tahu
bahwa kita butuh pertolongan? Biasanya
orang tuli juga akan bisu karena ia tidak terlatih untuk mendengarkan
kata-kata.
Seorang tuli dan bisu yang
disembuhkan oleh Yesus tidak hanya disembuhkan secara fisik dan jasmani tetapi
Ia juga membuka pintu hatinya untuk terbuka kepada Yesus. Semua itu dapat
terjadi karena ada seseorang yang bersedia membawa dia kepada Yesus.
Bagaimanakah dengan kita? Seharusnya kita dapat membuka hati kita agar dapat
menanggapi panggilan dari Yesus.
Comments
Post a Comment