9 September 2018


“Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berbicara.” ( Mrk 7:37)
Pada saat dunia diciptakan, Allah melihat bahwa semua baik adanya. Namun, karena dosa manusia itu lah yang membuat dunia menjadi dua sisi yaitu sisi baik dan sisi jahat. Dunia ini tidak hanya berisi sisi baik saja. Kita sebagai manusia tentunya mengetahui bagaimana sisi baik dan sisi jahat itu ada di dunia. Terkadang banyak orang merasa tidak perduli dengan kesulitan yang dihadapi oleh orang lain. Walaupun mereka baik dengan semua orang tetapi mereka tidak mau peduli dengan kesulitan yang di hadapi oleh orang di sekitarnya.
Yesus datang ke dunia dengan membawa sukacita. Allah mengutus Yesus datang ke dunia untuk menjadikan segala-galanya menjadi baik. Kebaikan Yesus menjadikan-Nya peka terhadap apa yang dihadapi oleh umat-Nya. Ia peka terhadap suara Bapa-nya. Diceritakan di dalam bacaan Injil pada hari ini bahwa Yesus mendengar dan menyembuhkan orang yang sakit. Yang tuli dijadikan-Nya mendengar dan yang bisu dijadikan-Nya berbicara.
Kisah pada bacaan Injil pada hari ini mengingatkan kita pada kehidupan sehari-hari yang seolah-olah tuli dan bisu terhadap masalah orang lain. Kita seringkali tidak ingin membantu dan ikut campur dalam masalah orang lain. Kita tidak perduli dengan apa yang orang lain rasakan dan hanya memikirkan masalah hidup kita sendiri. Dengan kita bertindak seperti itu, tentunya orang lain juga enggan untuk membantu kita.
Alangkah tidak enaknya menjadi seorang yang tuli. Tidak ada seorang pun yang dapat melihat kesulitan kita. Jika kita menderita buta atau lumpuh, orang lain bisa melihat kesulitan kita dan segera memberikan pertolongan. Namun jika tuli, bagaimana orang bisa tahu bahwa kita butuh pertolongan?  Biasanya orang tuli juga akan bisu karena ia tidak terlatih untuk mendengarkan kata-kata.
Seorang tuli dan bisu yang disembuhkan oleh Yesus tidak hanya disembuhkan secara fisik dan jasmani tetapi Ia juga membuka pintu hatinya untuk terbuka kepada Yesus. Semua itu dapat terjadi karena ada seseorang yang bersedia membawa dia kepada Yesus. Bagaimanakah dengan kita? Seharusnya kita dapat membuka hati kita agar dapat menanggapi panggilan dari Yesus.

Comments